PROFIL SINGKAT & STRUKTUR

Profil Pesantren

Mengenal lebih dekat sejarah perjuangan Pondok Pesantren ASSUNNIYYAH.

Sejarah PP. Assunniyyah

Pondok Pesantren Assunniyyah terletak di Desa Kencong, +500 m dari kantor Kecamatan Kencong, 45 km dari barat daya kota Jember, 22 km dari kota Lumajang dan 169 km dari kota Surabaya. Pesantren ini didirikan pada tahun 1942 oleh KH. Djauhari Zawawi, tepat pada masa peralihan dari penjajahan Belanda menuju pendudukan Jepang. 

Pada kondisi dan situasi penuh kesulitan tersebut, KH. Djauhari Zawawi, seorang pemuda kelahiran Desa Waru, Kec. Sedan, Kabupaten Rembang tahun 1911 datang ke Desa Kencong, dan bertekad mendirikan Pondok Pesantren. Mula-mula beliau membangun musholla dari bambu yang dibantu para Kyai setempat. Tak lama kemudian bangunan Pondok Pesantren tersebut diobrak-abrik tentara Jepang. Hai ini disebabkan karena KH. Djauhari Zawawi termasuk pimpinan Barisan Hizbullah, yaitu laskar pejuang muslim yang dibentuk pada masa pendudukan Jepang tahun 1944 sebagai pasukan cadangan PETA dan terdiri dari pemuda muslim serta santri di kawasan Barat Daya Jember.

Pada tahun 1944 sepulang KH. Djauhari Zawawi dari masa pengungsiannya, beliau mendirikan kembali sisa bangunan Pondok Pesantren yang pernah dibangun. Pembangunan ini dibantu santri-santri yang datang dari berbagai daerah seperti Banyuwangi, Magelang, Cilacap dan wilayah lainnya, karena mereka mengenal beliau sebagai sosok Kyai yang ahli (Alim) dalam bidang Fiqih dan Tasawwuf.

Dengan semangat, kesungguhan serta penuh ketekunan, KH. Djauhari Zawawi mendirikan Pondok Pesantren yang murni bertujuan Untuk menegakkan syari'at Islam berhaluan Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Serta mencetak kader-kader muslim yang bertaqwa kepada Allah SWT Serta berguna bagi Agama, Nusa dan bangsa.

Sebagai perintis utama dan sekaligus sebagai pengasuhnya, KH. Djauhari Zawawi berpegang teguh pada fatwa dan pelajaran Imam Al-Ghozali sebagai ilmuwan Islam yang alim dalam bidang Ilmu Tasawwuf. Oleh karenanya, Beliau tidak berkeinginan menjadikan santri-santrinya sebagai pegawai pemerintah, walaupun kenyataannya dari alumni-alumninya ada yang menjadi pegawai pemerintah. Itu merupakan suatu hal yang kebetulan saja.

Sistem pendidikan dan pengajaran yang ditempuh di Pondok Pesantren ini, adalah salafiyyah (tradisional) dan madrasi (klasikal). Tingkatan madrasah diniyyah di dalamnya meliputi Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah dan Ma’had Aly. Dari keempat tingkatan pendidikan tersebut, kitab berbahasa Arab karya para ulama salafus shalih tetap digunakan standar sesuai dengan tingkat kemampuan santri. 

Untuk bidang fiqih, kitab yang dipelajari diantaranya Fathul Qarib, Fathul Mu'in, dan Tuhfatut Thullab. Untuk bidang akhlaq dan Tasawwuf, diantara kitab yang dipelajari adalah Washoyal Aba’ lil Abna’, Ta'limul Muta'alim dan al-Nashaihud Diniyyah. Di bidang bahasa (Nahwu, Shorof dan Balaghoh) kitab yang dipelajari diantaranya, Nadzom Syabrawi, Matan Al-Ajurumiyah, ‘Amrithi, Amtsilatut Tashrifiyah, al-Maqsud, Alfiyah dan Jauharul Maknun. Di bidang Hadits kitab yang dipelajari diantaranya: Arba'in Nawawi, Mukhtashor Shahih Bukhori lil imam Abi Jamroh, Bulughul Marom, dan kutub As-sittah (Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Daud, Sunan At-Tirmidzi, Sunan An-Nasa’i dan Sunan Ibnu Majah).  Untuk nadhom dan matan tertentu, santri diwajibkan hafal sebagai syarat kenaikan kelas. 

Disamping ilmu pengetahuan yang diterima di madrasah diniyyah, para santri juga diwajibkan untuk mengikuti pengajian kitab yang diselenggarakan oleh para masyayikh dan dibantu oleh tenaga pengajar setiap selesai sholat Shubuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib dan Isya'.

Selama masa hidupnya sebagai muassis Pondok Pesantren Assunniyyah, KH. Djauhari Zawawi tetap meluangkan waktu untuk mengajar masyarakat melalui pengajian umum yang beliau istiqomahkan setiap Senin malam dan Jumat pagi. Tradisi pengajian ini kemudian diteruskan oleh KH. Ahmad Sadid Jauhari dan masih berlangsung hingga sekarang.

Pondok pesantren yang berdiri diatas tanah seluas 2,5 hektar dengan status tanah waqof dan milik ini, terus melakukan peningkatan sarana prasarana dengan tujuan untuk menunjang kebutuhan dan kemampuan santri agar dapat mencetak generasi yang tafaqquh fiddin.