POSISI BID’AH DALAM KLASIFIKASI HUKUM

Dewasa ini tak jarang kita mendengar sahabat seiman mengatakan bahwa suatu hal yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi hukumnya bid’ah. Sebuah diskripsi yang sebenarnya tabu bila diungkapkan kepada halayak umum. Hal ini dikarenkan salah persepsi atas istilah bid’ah itu sendiri. Mereka menganggak bahwa bid’ah dan sunnah menjadi kategori hukum baru. Statemen ini tak berlandaskan ilmu sama sekali.

Bid’ah sama sekali bukanlah termasuk hukum dalam Islam. Kita ketahui sebagaimana dalam kajian ushul fiqh bahwa hukumadalah :

خِطَابُ اللهِ المُتَعَلِّقُ بِأَ فْعَالِ المُكَلَّفِينَ إِقتِضَاءً اَوتَخْيِيرً ااَووَضعاً

Artinya: “Kalam Allah yang menyangkut perbuatan orang dewasa dan berakal sehat, baik bersifat imperatif, fakultatif atau menempatkan sesuatu sebagai sebab, syarat, dan penghalang.”
Yang dimaksud disini defenisi tersebut adalah semua bentuk dalil, baik al-Quran, as-Sunnah maupun yang lainnya, seperti ijma’ dan qiyas. Yang dimaksud menyangkut perbuatan mukallaf adalah perbuatan yang dilakukan oleh manusia dewasa yang berakal sehat meliputi perbuatan hati, seperti niat dan perbuatan ucapan, seperti ghibah dan namimah. Yang dimaksud dengan imperatif (iqtidha) adalah tuntutan untuk melakukan sesuatu, yakni memerintah atau tuntutan untuk meninggalkannya yakni melarang, baik tuntutan itu bersifat memaksa maupun tidak. Sedangkan yang dimaksud fakultatif (takhyir) adalah kebolehan memilih antara melakukan sesuatu atau meninggalkannya. sedangkan yang dimaksud wadh’i adalah memposisikan sesuatu sebagai penghubung hukum, baik berbentuk sebab, syarat, maupun penghalang.

Hukum diklasifikasi menjadi 2 kategori. Pertama, hukum taklifi; yaitu hukum pembebanan yang berhubungan dengan penuntutan; menuntut mukallaf untuk berbuat atau tidak berbuat(melarang), atau kebebasan memilih antara berbuat atau tidak. Hukum taklifi memiliki 5 macam bentuk, yaitu; ijab(wajib), nudzbah(sunnah), Mubah, Makruh, Haram. Kedua, hukum wadl’i; yaitu hukum yang berhubungan dengan ketetapan/keberadaan sesuatu. Merupakan keterkaitan satu hal dengan hal lain seperti sebab dan akibat. Macam-macam hukum wadl’i yakni; shahih (sah) dan fasid (batal), Sebab, syarat, dan Mani’.

Dari kategori dan macam-macam hukum, dimana sebenarnya letak bid’ah dan sunnah sehingga sebagian golongan sering menghukumi perkara dengan bid’ah? Apakah sebagai hukum, mahkum bih (objek), atau mahkum alaih (Subjek) ? Coba kita telaah redaksi dibawah ini :

قال الشيخ الإمام المجمع على إمامته وجلالته وتمكنه في أنواع العلوم وبراعته أبو محمد عبد العزيز بن عبد السلام رحمه الله ورضي عنه في آخر كتاب “القواعد”: البدعة منقسمة إلى: واجبة، ومحرمة، ومندوبة، ومكروهة، ومباحة. قال: والطريق في ذلك أن تعرض البدعة على قواعد الشريعة، فإن دخلت في قواعد الإيجاب فهي واجبة، أو في قواعد التحريم فمحرمة،أ والندب فمندوبة، أو المكروه فمكروهة، أو المباح فمباحة، وللبدع الواجبة أمثلة منها: الاشتغال بعلم النحو الذي يفهم به  كلام الله تعالى وكلام رسول الله – صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، وذلك واجب؛ لأن حفظ الشريعة واجب، ولا يتأتى حفظها إلا بذلك وما لا يتم الواجب إلا به، فهو واجب، الثاني حفظ غريب الكتاب والسنة في اللغة، الثالث تدوين أصول الدين وأصول الفقه، الرابع الكلام في الجرح والتعديل، وتمييز الصحيح من السقيم، وقد دلت قواعد الشريعة على أن حفظ الشريعة فرض كفاية فيما زاد على المتعين ولا يتأتى ذلك إلا بما ذكرناه.

وللبدع المحرمة أمثلة منها: مذاهب القدرية والجبرية والمرجئة والمجسمة والرد على هؤلاء من البدع الواجبة.
وللبدع المندوبة أمثلة منها إحداث الرُبط والمدارس، وكل إحسان لم يعهد في العصر الأول، ومنها التراويح، والكلام في دقائق التصوف، وفي الجدل، ومنها جمع المحافل للاستدلال إن قصد بذلك وجه الله تعالى.
وللبدع المكروهة أمثلة: كزخرفة المساجد، وتزويق المصاحف
وللبدع المباحة أمثلة: منها المصافحة عقب الصبح والعصر، ومنها: التوسع في اللذيذ من المآكل، والمشارب، والملابس، والمساكن، ولبس الطيالسة، وتوسيع الأكمام. وقد يختلف في بعض ذلك فيجعله بعض العلماء من البدع المكروهة، ويجعله آخرون من السنن المفعولة في عهد رسول الله – صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فما بعده، وذلك كالاستعاذة في الصلاة والبسملة هذا آخر كلامه.

Dalam kitab Tahdzibul Asma’ Wa al-Lughoh, Imam Izzuddin bin Abdis Salam yang bergelar “Sulthan al-Ulama” (king of ulama) -wafat 660 H.- mengatakan bid’ah bid’ah dibagi menjadi lima, yaitu :
Wajibah (bidah yang wajib)
Mandubah (bidah yang sunnah)
Muharromah (bidah yang haram)
Makruhah (bidah yang makruh) dan
Mubahah (bidah yang mubah atau boleh).

Metode imam Izzuddin ini memaparkan bid’ah berdasarkan kaidah-kaidah syari’ah, Sehingga apabila masuk pada qaidah (penetapan) hukum wajib maka menjadi bid’ah wajibah, apabila masuk pada qaidah (penetapan) hukum haram maka itu bid’ah muharramah, apabila masuk pada qaidah (penetapan) hukum mandzub maka itu bid’ah mandzubah, apabila masuk pada qaidah (penetapan) hukum makruh maka itu bid’ah makruhah, apabila masuk pada qaidah (penetapan) hukum mubah maka itu bid’ah mubahah.
Dari keterangan tersebut dapat kita fahami bahwa posisi bid’ah bukanlah sebuah hukum. Melaikan objek hukum/perkara yang harus dihukumi. Bisa kita lihat masing-masing contohnya adalah:
Bid’ah Wajibah seperti : menyibukkan diri belajar ilmu nahwu sehingga dengannya bisa memahami firman Allah dan sabda Rasulullah. Kewajiban ini tumbuh dari kewajiban menjaga syariah dan tidak mungkin menjaga kecuali dengan hal itu serta dan sesuatu kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengannya. Sehingga dengan demikian menjadi wajib menjaga exsistensi bahasa dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Hal ini yang justru sebaliknya dilakukan oleh mereka yang berjargon kembali ke al-Qur’an dan as-Sunnah dan meninggalkan belajar ilmu alat. Bahkan, menuduh ilmu-ilmu yang diajarkan dipesantren mengarah ke sesatan. Sebuah pemikiran yang lucu apabila menyalahkan pelajar yang mempelajari islam langsung kedalam bahasnya (Arab) dan membenarkan belajar melalui terjemahan. Contoh lainnya adalah mencatat (membukukan) ilmu ushuluddin dan ushul fiqh, pembahasan tentang jarh wa ta’dil, dan membedakan haditds shahih dari dla’if.
Bid’ah Muharramah contohnya seperti aliran (madzhab) al-Qadariyah, al-Jabariyah, al-Murji’ah, al-Mujassimah, dan membantah mereka termasuk kategori bid’ah yang wajib (bid’ah wajibah). Redaksi ini justru menjadi serangan balik untuk mereka yang suka menuduh bid’ah karena merekalah sebenarnya kelompok mujassimah (menggambarkan Allah seolah-solah memiliki tubuh, tangan, kaki, dll.)
Bid’ah Mandzubah (Bid’ah yang Sunnah) seperti membangun pesantren dan madrasah. Melakukan kebaikan-kebaikan yang belum ada pada masa awal Islam berdiri; diantaranya adalah shalat tarawih, pengkajian tasawwuf, dan lain sebagainya.
Bid’ah Makruhah seperti berlebih-lebihan menghiasai masjid, menghiasi mushaf dan lain sebagainya.
Bid’ah Mubahah seperti bersalaman (berjabat tangan) selesai shalat subuh dan ‘ashar. bermacamnya jenis-jenis makanan dan minuman, pakaian dan kediaman. Sebagian ‘ulama ada yang memasukkan pada bagian dari bid’ah yang makruh, sedangkan sebagian ulama lainnya memasukkan perkara sunnah yang dilakukan pada masa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dan setelah beliau, dan itu seperti mengucapkan isti’adzah didalam shalat dan basmalah. Ini akhir perkataan beliau.“

Dengan demikian, jika kita mendengar pertanyaan seseorang semisal “bagaimana hukum membaca qunut ketika sholat subuh?” Lalu dijawab “hukumnya bid’ah”, jawaban seperti ini keliru dan tidak sesuai dengan konsep keilmuan. Kenapa? Karena jika kita belajar dalam fiqh dan ushul fiqh, bidah bukanlah variatif hukum. Bid’ah adalah bentuk perbuatan/fenomena (baru) yang mestinya harus dihukumi (wajib. Sunnah, haram, dsb.), atau kita bisa istilahkan perkara yang dihukumi (mahkum bih; objek hukum), bukan hukum itu sendiri. Jadi sudah jelas jika kita menemukan orang yang suka teriak hukum bid’ah merupakan perbuatan bid’ah dlolalah yang sesungguhnya, karena menambah-nambahi kategori hukum tanpa dalil yang argumentatif baik secara naqli ataupun aqli. Wallahu a’lam bis showab…

 
Oleh : Ahmad Fauzi 
Editor : Ahmad Muhammad Naseh

Tinggalkan Balasan

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com